TRANSLATE
English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Rabu, 16 November 2011

IDC: Banjir Thailand, Industri PC Anjlok 20%

Thailand menguasai sekitar 45 persen produksi harddisk global di paruh pertama 2011.

Bencana banjir yang melanda Thailand selama beberapa bulan terakhir dan telah memaksa sejumlah produsen harddisk menghentikan produksi serta mempengaruhi produktivitas produsen komponen lainnya diamati oleh lembaga riset IDC.

Berdasarkan perhitungan, IDC yakin bahwa gangguan itu tidak akan memberikan dampak besar terhadap total penjualan PC di tahun 2011. Penurunan penjualan hanya akan mencapai maksimal 10 persen, sudah termasuk penjualan di musim liburan.

Namun, saat inventori semakin menipis, produsen PC akan menghadapi masalah besar.

Dikutip dari Fudzilla, 16 November 2011, IDC memperkirakan tipisnya pasokan komponen PC akan mengganggu produksi komputer pada kuartal pertama 2012. Hasilnya, penjualan PC bisa turun sampai 20 persen di periode tersebut.

Sebagai informasi, Thailand menguasai sekitar 45 persen produksi harddisk global di paruh pertama 2011. Namun banjir tampaknya telah memangkas kapasitas produksi harddisk negara tersebut hingga separuhnya.

Meski IDC memperkirakan bahwa vendor PC utama akan mampu mengatasi masalah dengan mengirimkan produk ke kawasan prioritas, namun mereka juga akan terpengaruh. Dampaknya, kekurangan pasokan akan lebih terasa di kalangan konsumen rumahan yang cenderung membeli PC rakitan atau hanya akan mengupgrade komponen.

Yang lebih parah, puncak menipisnya stok komponen komputer dunia akan bersamaan dengan hadirnya chip Ivy Bridge dari Intel serta kartu grafis 28 nanometer terbaru dari AMD dan Nvidia.

Umumnya, pada masa-masa tersebut, konsumen akan terpancing untuk melakukan upgrade terhadap komputer mereka. Dan jika demikian, mereka harus membayar mahal untuk melakukan upgrade, khususnya terhadap harddisk.

Pilihan lain, mereka harus memilih solid state drive (SSD) yang masih lebih mahal, atau terpaksa menunggu beberapa bulan ke depan demi menghemat uang yang telah susah payah dikumpulkan.
• VIVAnews 


0 komentar:

Posting Komentar